CARA MELATIH ANAK MAKAN SENDIRI

Anak makan sendiri

Cara melatih anak makan sendiri itu bisa dibilang gampang gampang susah. Dibilang susah, kelihatannya sih gampang. Dibilang gampang pun, kenyataannya susah. Begini, Bund, mengajarkan anak untuk makan sendiri itu boleh mudah. Tapi, menyuapinya terus menerus pun tidak bagus. Itu hanya akan menghambat perkembangannya.

 

Perlu diketahui bahwa ketika anak masuk usia 10 bulan, perkembangannya sudah mulai banyak, termasuk soal makan ini. Selain dari jenis makanan yang masuk ke tubuhnya mulai bervariasi, cara ia makan pun tentu sudah harus berkembang, harus mulai biasa makan sendiri.

 

Seorang psikiater anak, Dr. Tjhin Wiguna, SpKJ(K),  mengungkapkan beberapa manfaat yang akan diperoleh anak ketika ia mulai belajar makan sendiri. “Pastinya motorik halus akan sangat terlatih. Artinya ketika ia mencoba mengambil makanannya sendiri, otot kecil di tangannya akan terlatih mengambil sesuatu,” katanya.

 

Dr. Tjhin mengatakan sebetulnya bayi itu sudah biasa melatih otot tangannya ketika memegang tangan Bundanya. Kira-kira saat usia di bawah 6 bulan. Nah, perkembangan motorik halusnya itu akan semakin sempurna ketika ia mulai belajar makan sediri. Lebih lanjut lagi, ketika motoriknya sudah terlatih, akan sangat mudah baginya untuk belajar menggambar dan menulis.

 

Jadi, dari paparan Dr. Tjhin tersebut bisa dikatakan bahwa semakin awal anak terbiasa makan sendiri, semakin awal pula ia untuk bisa menulis. Setidaknya untuk bisa memegang pensil dengan kokoh.

 

Di luar soal kemampuan motorik, dengan makan sendiri, anak akan mulai terlatih untuk mengendalikan makannya. Mereka bisa paham batas lapar dan kenyangnya. Hal tersebut diungkapkan oleh Tiffani Hays, direktur nutrisi anak di Johns Hopkins Schildren’s Center, Amerika.

 

“Anak pun terlatih untuk mendapatkan sesuatu yang bervariasi karena mereka dibiarkan memilih asupannya sendiri,” kata Tiffani.

 

Ia lantas menambahkan bahwa Bunda yang membiasakan anaknya makan sendiri dan mengajarkan cara melatih anak makan sendiri, berarti membuka peluang lebih luas pada anaknya untuk mulai belajar banyak dari sekitarnya. Kegagalan saat memegang sendok, kegagalan mengais nasi ke atas sendok, itu semua adalah pelajaran berharga bagi mereka. Begitu katanya.

 

Nah, supaya berhasil mengaplikasikan cara melatih anak makan sendiri, ada beberapa hal yang bisa Bunda coba aplikasikan di rumah.

 

 

    1. Memberi makanan yang bisa digenggamnya (finger food)

 

 

Cara melatih anak makan sendiri pada tahap pertama adalah memberinya finger food, atau makan yang bisa digenggam olehnya. Proses dirinya elajar bagaimana caranya menggenggam, lalu memabawanya ke depan mulut, hingga menyuapkannya itu adalah permulaan yang sangat baik. Makanan yang bisa digenggam ini harus yang lunak. Bisa itu berupa bolu kukus, wortel kukus, kentang rebus, brokoli, buah apel yang dipotong-potong atau lainnya.

 

Tahap ini bisa Bunda mulai ketika anak menginjak usia 8 bulan. Bahkan, untuk sejumlah anak bisa juga dilakukan lebih cepat. Normalnya, ketika anak sudah bisa duduk dengan tegap sendiri dan sudah kuat menggenggam.

 

 

    1. Memperkenalkannya pada sendok dan garpu

 

 

Cara melatih anak makan sendiri berikutnya adalah membuatnya akrab dengan sendok dan garpu. Ini tahap baru baginya. Setelah semula memakan apa yang ada di genggamannya, sekarang ia belajar mengais nasi, menusukkan garpu pada makanan, baru kemudian memasukannya ke dalam mulut. Jadi, koordinasi antara otak dan motoriknya lebih kompleks.

 

Tahap kedua ini umumnya dilakukan di usianya yang ke 13 atau 15 bulan. Tapi sekali lagi, hitungan bulan ini kasar, melihat umumnya anak. Jadi bisa saja anaknya Bunda lebih cepat dibanding anak pada umumnya.

 

 

    1. Tumbuhkan motivasi atau alasan pada dirinya bahwa aku harus makan sendiri

 

 

Motivasi anak salah satunya bisa ditimbulkan dengan proses imitasi. Jadi, misal, ia melihat sosok yan disukainya, lantas ia ingin meniru apa yang sosok itu lakukan. Nah, Buku Halo Balita menjadi pilihan tepat untuk ini. Buku terbitan Mizan Pelangi ini di menghadirkan tokoh-tokoh atau karakter-karakter yang lovable, mudah disukai anak. kerennya lagi, di buku Halo Balita ini ada satu jilid yang bererita tentang anak yang makan sendiri. Kan pas. Mending Bunda coba langusng praktik deh, beri anaknya Halo Balita.

 

Selamat mencoba!

MENGAPA KITA HARUS MELATIH KECERDASAN EMOSI ANAK? JANGAN KAGET, INI JAWABAN PSIKOLOG KLINIS!

Kecerdasan emosi anak atau emotional quotient. Sejauh mana Ayah Bunda memahami hal ini? Apakah sudah tahu apa manfaat kecerdasan emosi anak dan bagaimana cara terbaik untuk melatihnya? Ayah Bunda berada di tepat yang tepat.

 

Secara kasar, kecerdasan emosi anak banyak dipahami sebagai kemampuan si kecil untuk mengontrol emosinya. Ketika mereka ramah, tidak mudah marah, mudah bersahabat, gampang beradaptasi, hal itu dipersepsikan bahwa anak tersebut memiliki kecerdasan emosi yang bagus.

 

Namun, untuk memperdalam pemahaman Ayah Bunda tentang kecerdasan emosi anak guna mengoptimalkan aspek ini untuk kesuksesannya, sebaiknya Ayah Bunda simak penuturan Lisa Firestone, Ph.D, seorang psikolog klinis sekaligus penulis dan direktur Research and Education for the Gendon Association.

 

Sebagai pembuka, Lisa menuturkan bahwa ketika melatih kecerdasan emosi anak, Ayah Bunda sebetulnya tengah mengajarkan mereka satu kemampuan utama untuk kesuksesan hidup mereka. Penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosi anak atau EQ ini memprediksi lebih dari 54% kesuksesan dalam berbagai aspek (kesuksesan hubungan, kualitas hidup, kesehatan, karir, dan lainnya). Ia juga mengungakapkan, data lainnya menyimpulkan bahwa remaja dengan tingkat kecerdasan emosi yang tinggi bisa menempuh pendidikan tinggi dan menentukan pilihan yang baik bagi dirinya.

 

Kemudian, Lisa mengaku terinspirasi oleh pidato Dr. Marc Brackett, direktur Yale Center for Emotional Intelligence, yang berbicara tentang betapa pentingnya sekolah untuk melatih anak untuk memahami emosinya sendiri. Katanya, isntitusi Dr. Marc tersebut membuat sebut model pembelajaran tentang hal ini. namanya adalah RULER.

 

RULER ini singkatan dari Recognizing emotions in self (menyadari apa perasaannya), Understanding the causes and consequences (memahami penyebab dan akibat dari emosinya tersebut), Labeling emotions accurately (memberi nama atas jenis emosi yang tengah dairasakannya), Expressing emotions appropriately (meluapkan emosinya dengan tepat), dan Regulating emotions effectively (mengontrol atau mengatur emosi dengan efektif).

 

Kalau di sekolah-sekolah belum memiliki wawasan untuk melakukan upaya mengasah kecerdasan emosi anak, model RULER ini bagus sekali untuk diaplikasikan di rumah, Bund!

 

Kembali ke paparan Lisa, ia kemudian menyebut bahwa metode RULER tersebut berjalan paralel dengan prinsip kecerdasan sosial anak yang digagas oleh Daniel Goleman. Sebagaimana sudah diketahui, prinsip atau ukuran tinggi rendahnya kecerdasan sosial itu ada lima poin, yaitu self awarness (mengenali emosi), self regulation (mampu mengontrol emosi), internal motivation (memiliki sense yang bagus dalam memaknai apa yang penting di dalam hidup), emphaty (memahami perasaan orang lain), dan social skills (mampu membangun hubungan sosial).

 

Bisa disimpulkan bahwa ketika Ayah Bunda mempraktikkan model RULER sebaai upaya melatih kecerdasan emosi anak, maka dalam waktu bersamaan, kecerdasan sosial anak pun terasah.

 

Kemudian, Lisa mengatakan bahwa sesungguhnya, yang menjadi berat bagi orangtua dalam melatih kecerdasan emosi anak adalah karena orangtuanya sendiri pun tak pandai dalam melatih emosinya. Kendati demikian, ia lantas menegaskan bahwa model RULER atau model apapun untuk melatih kecerdasan emosi itu bisa dilatih atau diajarkan untuk usia berapapun. Jadi, katanya, berproseslah bersama.

 

Pada faktanya, berbiara empat mata kemudian mulai melakukan metode RULER di atas itu tidak semudah yang dibayagkan. Bunda duduk berhadapan dengan anak. Lalu bertanya, “apa yang kamu rasakan sekarang?” Kemudian menanyakan penyebab dan konsekuensi dari perasaan tersebut. Hal itu akan sulit untuk dilakukan, terlebih untuk anak yang usianya lebih kecil.

 

Untuk memudahkan mepraktikkan metode RULER ini, ada baiknya Ayah atau Bunda menghadirkan medium seperti alat bantu yang dalam tahap awal bisa mendudukkan bersama dan mencairkan suasana. SabaQu bisa jadi pilihan terbaik untuk hal ini.

 

Umumnya, SabaQu masih dikenal sebagai permaian edukatif yang melatih bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika. Padahal, SabaQu juga bisa menjadi sarana perekat hubungan batin para pemainnya, bisa menciptaka keintiman. Jadi, cobalah main SabaQu bersama anak.


Bahkan, perlu diketahui juga bahwa SabaQu punya andil dalam melatih kecerdasan anak. coba bayangkan, mengapa permainan ini mengharuskan anak memeriksa jawabannya sendiri, menjawab dengan menempelkan keping magnet warna di sisi papan? Semua itu punya makna.

 

Nah, kembali kepada paparan Lisa, ia mengakhirnya dengan sebuah pertanyaan. Persis seperti yang tertera pada judul, ‘mengapa kita harus melatih kecerdasan emosi anak?’ Jawabannya adalah karena kecerdasan emosi adalah jenis kecerdasan yang paling menentukan pada hidup seseorang.

 

Lihat, banyak orang pintar di barat sana yang mati konyol dengan menghabisi nyawa sendiri. Alasannya apa coba? Ya karena mereka tak memiliki kecerdasan emosi yang baik. Sebaliknya, ketika kecerdasan emosi anak baik, maka akan sangat mudah untuk memiliki kecerdsan intelektual yang jauh lebih baik.

 

Semoga Ayah Bunda banyak mendapat masukan dari paparan psikolog klinis, Lisa Firestone Ph.D, ini. Sekurang-kurangnya, Ayah Bunda dapat metode RULER tuh!