PERKEMBANGAN BAYI BELAJAR BICARA

bukuananda.com

Bukuananda.com : Momen paling seru mengamati tumbuh kembang anak itu saat ia mulai berbicara dan berceloteh ceria, iya gak nih Bunda? Setelah melewati fase lainnya, ketika si kecil belajar berguling, merangkak, atau bahkan duduk, saat ia mulai bicara pasti rasanya bangga banget sebagai orang tua.

 

Tapi, Bunda pernah gak sih bertanya-tanya, proses apa aja ya yang dilewati si kecil ketika mulai berbicara hingga dia lancar berceloteh nanti? Tahap demi tahapnya ternyata beruntun, lho! Satu hal yang perlu Bunda pahami, beberapa bayi juga ada yang lambat berbicara. Jadi jangan langsung panik ya kalau si kecil belum bisa berbicara sama sekali.

 

Nah, biar gak salah kaprah, ada baiknya Bunda mengetahui lebih dulu langkah bayi belajar bicara pada perkembangannya. Yuk, cari tahu di bawah ini!

 

 

 

Usia 3 Bulan

 

Fase pertama ketika bayi mulai bicara biasanya dimulai saat ia memasuki usia 3 bulan, Bund. Di usia ini mereka akan lebih sering bersuara menggunakan bahasa bayi. Hal ini dikarenakan bayi belum bisa belajar bahasa ibu atau bahasa yang pertama kali Bunda kenalkan. Ia akan lebih banyak mengoceh gak jelas dan bermain dengan suara.

 

Nah, Bunda udah bisa mengajaknya berkomunikasi di usia ini. Si kecil akan lebih sering mendengarkan suara Bunda, mengawasi wajah Bunda saat bicara, kemudian memberikan responnya. Ia juga akan lebih sering mendengarkan dan memberikan perhatian pada suara-suara lain di sekitarnya.

 

Fakta uniknya, bayi ternyata lebih menyukai suara perempuan ketimbang laki-laki, lho! Beberapa bayi juga menyukai suara musik dan suara lainnya yang pernah mereka dengar semasa di kandungan. Lalu pada akhir usia tiga bulan, si kecil akan mulai memerhatikan vokalisasi lagu bernada gembira dan lembut secara berulang-ulang.

 

 

 

Usia 6 Bulan

 

Setelah usia 3 bulan, perkembangan bicara si kecil akan mulai meningkat saat usia 6 bulan. Di usia ini, ia akan mulai berceloteh dengan suara yang beragam. Ia mulai suka mengatakan satu atau dua suku kata berulang-ulang, seperti “ba” atau “da” yang mudah diucapkan. Kata-kata ini juga merupakan ungkapan sesuatu si kecil terhadap suatu hal. Namun, ocehan mereka ini biasanya merupakan suku kata random tanpa makna.

 

 

 

Usia 7 Bulan

 

Saat usia 7 bulan, si kecil sudah bisa merespon nama mereka sendiri, lho! Jadi mereka sudah tahu kalau mereka dipanggil oleh Bunda. Di usia ini mereka juga sudah mengenal bahasa ibu yang sering Bunda gunakan saat komunikasi. Ia juga akan menggunakan nada suara untuk memberi tahu kita soal perasaannya, apakah ia sedang sedih atau bahagia.

 

 

 

Usia 9 Bulan

 

Di usia ini, si kecil udah mulai belajar soal kata-kata dasar pendek, nih, Bund. Misalnya kata ‘tidak’ atau ‘iya’ yang sering Bunda katakan padanya. Ia juga akan sering mengatakan kata-kata yang sudah dipelajarinya berulang-ulang.

 

Selain itu, si kecil mulai berbicara dengan nada suara yang beragam dan berbeda. Bunda sudah bisa mengajarinya berbicara dengan bahasa ibu nih di usia ini.

 

 

 

Usia 12 Bulan

 

Genap di usia 12 bulan, si kecil sudah mulai memahami bahasa dan kata-kata yang mereka dengar sehari-harinya. Ia akan mulai mengerti saat dimintai tolong atau saat dilarang meski mungkin gak akan selalu menuruti keinginan Bunda. Maka dari itu, Bunda sudah bisa mengajarkannya banyak kosakata di umur ini.

 

Nah itu dia fase demi fase saat si kecil mulai belajar untuk berbicara. Butuh tahapan yang berkesinambungan agar ia belajar berbicara sepenuhnya. Semakin sering diajak berbicara, si kecil akan semakin cepat pula bisa bicara. Tugas Bunda adalah untuk mengajari si kecil bertutur kata yang baik semenjak dini, ya!

#belajarbicara #bicaraanak #bukuananda

Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia 5 Tahun yang Perlu Diketahui Orang Tua

bukuananda.com

Merawat dan membesarkan anak menjadi tugas amanah yang tidak bisa dianggap enteng oleh para orang tua. Dari hari ke hari, ada saja hal-hal yang masih membuat takjub para orang tua ketika anak-anak tumbuh dan berkembang. Memperhatikan tumbuh kembang anak menjadi hal yang luar biasa bagi para orang tua. Ketika si kecil sudah memasuki usia 5 tahun, orang tua biasanya sudah mulai memasukkannya ke PAUD atau TK. Nah, yuk simak dulu tahap tumbuh kembang anak usia 5 tahun seperti apa sih?

 

 

    1.  Tinggi dan berat badan

 

 

Untuk tinggi badan ideal anak usia 5 tahun adalah 99,9-118,9 cm bagi perempuan dan 100,7-119,2 cm bagi laki-laki. Sementara berat badan ideal yaitu 13,7-24,9 kg bagi perempuan dan 14,1-24,2 kg bagi laki-laki. Itu lah data dari Kementerian Kesehatan RI.

 

 

    1.  Perubahan fisik

 

 

Usia 5 tahun si kecil sudah memiliki fisik yang baik, mulai dari koordinasi otot-otot tubuh, keseimbangan dan kekuatan otot. Mereka bisa berlari cepat, berdiri dengan satu kaki dan sebagainya. Di usia ini pula biasanya mereka sudah tidak memiliki gigi susu dan tergantikan dengan gigi tetap.

 

 

    1.  Kemampuan berkomunikasi

 

 

Mereka sudah bisa bercakap-cakap dengan orang dewasa atau teman sebayanya. Mereka mulai bisa menyampaikan pendapat, menceritakan kegiatan yang dilakukan maupun mendeskripsikan sesuatu. Bunda bisa menanyakan bagaimana pendapatnya atau perasaannya pada suatu hal.

 

 

    1.  Kemampuan sosial

 

 

Mereka sudah bisa bersosialisasi. Mereka senang bermain bersama teman-temannya meski kadang bertengkar lalu menangis. Itu adalah hal yang wajar. Bunda perlu mengingatkan si kecil bahwa bertengkar itu tidak baik, melerai mereka dan mengatakan untuk tidak malu meminta maaf jika salah ataupun memaafkan temannya yang bersalah. Namun, jika anak Bunda termasuk yang pemalu atau diam saat ada orang, Bunda bisa melatihnya pelan-pelan untuk mau membuka diri pada orang lain.

 

Itu tadi yang perlu diperhatikan dalam tahap tumbuh kembang anak usia 5 tahun. Tentunya masing-masing anak akan memiliki pengalaman yang berbeda. Cobalah untuk menjadi teman bagi mereka, sehingga mereka bisa bercerita apa saja pada Bunda. Semoga informasi ini berguna ya Bund dan bisa menjadi panduan.

3 Permainan yang Bisa Melatih Kemandirian Anak

bukuananda.com

Sebagai orang tua kita sering kali dibayangi ketakutan jika anak-anak kita kelak tidak bisa mandiri. Terutama bagi anak yang sebentar lagi akan bersekolah, apakah si anak akan baik-baik saja. Atau apakah dia akan rewel saat berjauhan dengan orang tua. Berbagai pemikiran semacam itu sering kali menghantui. Namun, jangan khawatir Bunda berikut ini ada 3 permainan yang bisa dimainkan supaya anak jadi lebih bisa mandiri, yuk, cek ke bawah ini!

 

 

    1.  Petak umpet

 

 

Permainan ini akan melatih anak untuk bisa berjauhan dengan ibunya sedikit demi sedikit dan memastikan si kecil tetap aman. Karena kelak saat bersekolah si anak tidak bisa selamanya terus ditunggui si ibu. Permainan ini bisa dimainkan dengan seluruh anggota keluarga ataupun berdua dengan si kecil saja. Biasakan bermain petak umpet setiap hari dan beri waktu agak lama untuk si kecil menemukan Bunda. Lama-kelamaan emosi si kecil akan terlatih untuk berjauhan dengan ibunya. Namun, pastikan anak tetap merasa aman meski berjauhan dengan ibunya.

 

 

    1.  Mandi bola air

 

 

Sebaiknya permainan ini dilakukan saat mandi sore saja. Ini melatih anak untuk bisa mandi sendiri. Syaratnya anak harus sudah gosok gigi, mandi pakai sabun dan keramas sendiri (dengan shampoo yang tidak pedih di mata). Setelah selesai barulah Bunda bisa memasukkan bola-bola ke dalam ember besar berisi air hangat. Jangan lupa agar Bunda juga memberikan pujian untuk hasil usaha mandi sendirinya si kecil ya Bund. Walau mungkin hanya perutnya saja yang disabun, atau keramas hanya bagian depan.

 

 

    1.  Lomba makan

 

 

Ini melatih anak untuk makan sendiri dan sebaiknya dilakukan pada masa awal mpasi. Biasakan anak memasukkan makanannya sendiri ke dalam mulut dan hal ini juga bisa mengenalkan anak pada alat makan. Bunda dan si kecil bisa melakukan misalnya lomba makan melon. Masing-masing punya porsi yang sama, lalu usahakan Bunda mengalah dalam permainan ini.

 

Menarik banget kan 3 permainan di atas? Semoga dengan begitu si kecil jadi lebih bisa mandiri ya Bund. Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat.

5 Permainan yang Bikin Anak Mau Mendengarkan

bukuananda.com

Membuat si buah hati menjadi menurut dan mendengarkan perkataan orang tua adalah perkara yang tidak mudah. Biasanya anak-anak senang berlarian ke sana kemari ketika Bunda sedang menginstruksikan sesuatu. Ternyata hal ini bisa dibilang wajar Bunda. Karena anak-anak biasanya ingin diakui kalau dia sudah lebih besar. Mereka ingin mandiri bahkan sering kali melakukan kebalikan dari yang Bunda minta. Nah, berikut ini ada 5 permainan yang bisa melatih mereka mau mendengarkan. Yuk simak, Bund!

 

 

    1.  Cerita dengan boneka tangan

 

 

Cara ini cukup ampuh, Bund. Dengan bentuk dan warna boneka yang unik, si kecil akan mudah tertarik. Ketika Bunda hadir dengan suara boneka, si kecil akan berpikir bahwa boneka itu adalah teman barunya, bukan sosok ibunya. Jadi, dengan begitu akan melatih si kecil melakukan hal-hal yang Bunda minta dengan senang hati.

 

 

    1.  Mencari harta karun

 

 

Harta karun yang dimaksud adalah hadiah tersembunyi. Bunda bisa sembunyikan apa pun itu di suatu tempat yang aman. Buat petunjuk untuk menemukan harta karun. Permainan ini akan membuat kemampuan mengingatnya semakin terasah.

 

 

    1.  Memainkan senter

 

 

Lakukan di ruangan dengan nyala lampu yang redup. Nyalakan senter lalu tunjuk obyek tertentu misalnya rak buku. Minta lah anak berjalan ke arah sana dengan mengikuti cahaya senter. Bunda juga bisa menunjukkan berbagai jenis hewan dari tangan yang dipantulkan ke dinding.

 

 

    1.  Menyanyikan lagu

 

 

Banyak lagu anak yang bisa dinyanyikan misalnya Naik Delman atau Burung Kakak Tua. Tambahkan juga gerakan di setiap lirik. Bernyanyi lah di saat waktu luang atau si kecil hendak berpakaian agar membuatnya lebih tenang dan mampu mendengarkan.

 

 

    1.  Peragakan dengan mimik

 

 

Bunda bisa mulai dengan misalnya memperdengarkan suara kucing lalu minta anak untuk menirukan. Permainan ini akan melatih si kecil mendengarkan karena tentunya sulit bagi anak untuk mendengarkan suara tanpa melihat langsung obyeknya.

 

Nah, itu tadi ya 5 permainan yang bisa melatih si kecil untuk bisa belajar mendengarkan. Semoga info ini bermanfaat ya Bunda.

5 Tips Efektif Tumbuh Kembang Anak

bukuananda.com

Tumbuh kembang anak tentu menjadi perhatian bagi para orang tua. Banyak faktor yang bisa mempengaruhi proses tumbuh kembang anak. Untuk itu penting bagi para orang tua memiliki wawasan tentang kebutuhan akan masa tumbuh kembang anak. Nah, berikut ini 5 cara efektif untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Yuk simak bersama.

 

 

    1.  Membiasakan anak berolah raga secara teratur

 

 

Kegiatan olah raga akan meminimalkan risiko obesitas pada anak, dan memaksimalkan proses tumbuh kembang mereka. Anak-anak yang berolah raga akan lebih bersemangat menjalani aktifitas mereka, selain itu juga mengalami pertumbuhan tulang dan otot secara maksimal. Anak-anak lebih rentan mengalami kelebihan berat badan serta menyebabkan kemampuan kognitif sulit berkembang karena malas bergerak.

 

 

    1.  Membantu anak menemukan minat bakat

 

 

Tumbuh kembang tidak melulu soal fisik tapi termasuk juga dalam urusan menemukan apa yang menjadi minat dan bakat si anak sejak sedini mungkin. Karena dengan begitu, anak akan lebih semangat dalam beraktifitas. Namun, bukan berarti hal-hal lain di luar minat bakatnya tidak penting. Ajarkan bahwa pengetahuan yang didapatkan di sekolah semuanya penting.

 

 

    1.  Menjaga daya tahan tubuh anak

 

 

Kebutuhan gizi yang baik adalah salah satu faktor agar anak memiliki daya tahan tubuh yang baik pula. Biasakan mereka rutin melakukan aktifitas fisik supaya fungsi organ tubuh dalam berjalan maksimal. Jangan takut jika si kecil menjadi kotor, ajarkan untuk selalu membersihkan diri setelah bermain.

 

 

    1.  Komunikasi efektif sejak anak lahir

 

 

Meski bayi belum bisa menanggapi komunikasi tapi otaknya akan terus berkembang dan terstimulasi jika diajak berkomunikasi. Maka penting untuk mengajaknya berkomunikasi, tidak sebatas obrolan saja tapi juga bisa melalui sentuh kulit atau ekspresi wajah.

 

 

    1.  Kebutuhan gizi dan stimulasi sejak di dalam kandungan

 

 

Asupan gizi yang seimbang sangat penting untuk perkembangan buah hati. Selain itu calon ayah dan ibu bisa sering melakukan interaksi dengan obrolan positif pada si janin atau memutar musik yang dapat merangsang tumbuh kembangnya.

 

Itu tadi ya Bunda 5 cara efektif untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

5 Benda Bukan Mainan yang Sering Dimainkan Anak

bukuananda.com

Yang namanya anak-anak pasti memiliki segudang ide dan imajinasi. Meski mereka sudah memiliki banyak mainan di rumah, tapi percaya tidak percaya mereka masih suka lho, memainkan benda-benda di sekitar mereka. Nah, berikut ini 5 benda yang bukan mainan tapi suka dimainkan oleh anak-anak. Kira-kira apa saja itu? Yuk, simak Bunda!

 

 

    1.  Kotak kardus

 

 

Jangan langsung marah jika anak suka bermain kardus. Lihat apa yang bisa dilakukan si kecil. Bunda pasti bakal terkejut ketika dia menjadikannya rumah, pesawat atau bahkan gua tempat bersembunyi. Di sini anak bisa mengekspresikan imajinasinya dengan bebas.

 

 

    1.  Remote TV

 

 

Dengan imajinasinya, remote TV bisa berubah jadi mikrofon, pistol atau telepon genggam, lho. Pastikan TV dalam keadaan mati dan baterai dilepas jika si kecil memainkannya ya Bund. Selain itu, ingatkan anak untuk mengembalikan kembali remote ke tempat biasa setelah bermain.

 

 

    1.  Keranjang cucian

 

 

Jika Bunda sedang mencuci, mungkin ini menjadi benda favorit anak-anak untuk bermain. Bahkan tidak sedang mencuci pun, anak-anak rasanya tetap senang bermain dengan keranjang cucian. Sebaiknya Bunda harus pintar-pintar nih menyembunyikan keranjang cucian, agar pakaian kotor tidak berserakan.

 

 

    1.  Botol air minum

 

 

Biasanya si kecil anak memasukkan benda apa saja ke dalam botol. misalnya air dan sabun, atau kerikil. Sebaiknya pastikan anak bermain dengan botol plastik ya Bund bukan yang dari kaca karena akan sangat berbahaya.

 

 

    1.  Telepon genggam

 

 

Melihat orang tua bermain ponsel, tentu ini menarik perhatian si kecil juga. Sebaiknya, hati-hati ya Bund. Karena sudah banyak ponsel yang jadi pecah karena dimainkan oleh si kecil. Biasanya anak suka dengan bunyi-bunyian dari ponsel atau video lagu anak-anak favoritnya. Selain itu si kecil juga suka dengan menyalakan cahaya senter dari ponsel.

 

Nah, itu tadi 5 benda bukan mainan yang sangat senang dimainkan oleh si kecil ya Bunda. Jadi sekarang tahu kan bagaimana harus menyikapinya? Mana yang aman dan mana yang sebaiknya dijauhkan. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Di Masa Tumbuh Kembang Anak, Ini 5 Cara Menahan Diri Supaya Tidak Mudah Emosi Pada Anak

bukuananda.com

Banyak perbuatan anak yang membuat emosi. Tapi kita tahu bahwa selalu memarahi si kecil juga tentu tidak baik. Apalagi dalam masa tumbuh kembang anak. Lalu bagaimana caranya supaya kita bisa menahan diri? Nah, berikut ada 5 cara menahan emosi pada masa tumbuh kembang anak. Yuk, simak di bawah ini!

 

 

    1.  Hindari memukul

 

 

Memukul sama saja dengan kita mengajarkan kekerasan pada anak bahwa menyakiti orang lain diperbolehkan. Dengan kekerasan anak akan kehilangan rasa percaya pada orang tua dan akan menjadi lebih nakal. Selain itu, memukul anak akan membuat Bunda merasa bersalah atau merasakan emosi negatif lainnya.

 

 

    1.  Kendalikan cara bicara Bunda

 

 

Sebuah penelitian menyatakan semakin tenang Bunda bicara, semakin mudah juga Bunda menahan emosi dan menenangkan perasaan. Sebaliknya, jika Bunda memaki atau membentak, maka akan semakin naik juga kemarahan dalam diri Bunda. Maka biasakan berbicara setenang dan sehangat mungkin. Jika sering dilatih, anak-anak pun juga akan memahami kalau perilaku mereka salah.

 

 

    1.  Coba menghitung

 

 

Bisa dicoba misalnya, ”Rapikan tempat tidurmu. Mama hitung sampai sepuluh. ”Jika anak belum mematuhi, coba beri peringatan lagi dengan sikap tegas tanpa harus membentak atau meneriaki anak. Cara ini juga bisa melatih Bunda menahan emosi.

 

 

    1.  Waktu marah coba tenangkan diri

 

 

Yang paling mudah dilakukan adalah menarik napas sedalam mungkin. Embuskan dan ulangi beberapa kali hingga emosi Bunda lebih stabil. Cara kedua, Bunda bisa menjauh dulu dari si kecil. Jika sudah tenang, Bunda bisa bicara dan memberi arahan kembali pada si kecil untuk tidak mengulangi perbuatannya.

 

 

    1.  Apakah Bunda benar-benar harus marah?

 

 

Sebaiknya sejak awal Bunda tetapkan mana perilaku yang perlu ditindak dan mana perilaku yang bisa dibicarakan baik-baik. Karena tidak semua perbuatan anak perlu direspon dengan memarahi.

 

Nah, itu tadi ya Bunda 5 cara menahan emosi di masa tumbuh kembang anak. Karena kemarahan yang meledak-ledak tentu juga tidak baik untuk si kecil. Semoga informasi ini berguna ya Bunda.

Mulai Usia Berapa Si Kecil Bisa Belajar Baca Al-Quran? Yuk, Cari Tahu Jawabannya!

Mengajarkan ilmu agama menjadi sebuah kewajiban bagi orang tua. Termasuk di dalamnya mengajarkan si kecil membaca Al-Quran. Namun, memang tahapan ini bukanlah hal yang mudah. Ada banyak hal yang harus dipelajari anak, seperti huruf hijaiyah, tajwid, makhraj, panjang pendek membacanya, dan masih banyak lainnya.

 

Belajar Al-Quran lebih kompleks dibandingkan belajar huruf latin. Dari sini mungkin Bunda bakal bertanya-tanya, mulai kapan sih sebaiknya anak belajar membaca Al-Quran.

 

Menurut Ustadz Bendri Jaisyurrahman, konselor anak, remaja dan pernikahan yang dilansir dari KumparanMOM, ada beberapa tahapan yang harus dilalui anak sebelum ia diajari baca Al-Quran, hal ini juga mengacu pada salah satu ucapan sahabat Rasul, Jundub bin Junadah.

 

“Kami telah bersama Nabi Muhammad SAW – ketika kami masih sangat muda. Kami mempelajari iman sebelum belajar Al-Quran, kemudian barulah kami mempelajari Al-Quran hingga bertambahlah keimanan kami karenanya.” (diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan disahihkan oleh al-Albani).

 

Mengacu pada riwayat di atas, akan lebih baik jika anak beriman lebih dulu pada Allah sebelum membaca kitab sucinya. Bunda bisa mengenalkan dan menjelaskan dulu tentang Allah dan mengapa kita harus beriman pada-Nya.

 

Setelah ia mengenal pengertian ‘iman’, baru si kecil bisa dikenalkan pada Al-Quran. Namun Bunda nggak perlu langsung mengajarinya membaca. Urutan pengenalan Al-Quran sendiri dapat disesuaikan dengan tingkat kematangan indra anak. Hal ini juga mengacu pada surat An-Nahl ayat 78.

 

Baru setelah semua tahap tersebut dilewati, si kecil akan memiliki motivasi sendiri untuk membaca Al-Quran. Nggak hanya termotivasi, panca indra anak juga sudah matang buat mendukung proses belajarnya, nih.

 

Nah, usia di mana anak sudah bisa diperintahkan untuk salat, membaca Al-Quran, puasa, dan ibadah lainnya disebut sebagai usia mumayyiz. Satu yang harus Bunda tahu, fase ini akan berbeda pada tiap anak. Bergantung pada akanya yang cukup matang membedakan kanan dan kiri.

 

#buku #bukuananda #bukuanandacom #bukuanak #bukupintar