PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI

bukuananda.com

Bunda, pernah denger nggak soal ‘usia emas’ yang biasanya dikaitkan dengan tumbuh kembang anak kita? Kata ini maknanya akan berhubungan dengan apa yang terjadi pada setiap tahapan di masa anak usia dini. Tentunya, di masa awal inilah anak kita akan belajar dan hal-hal yang dipelajari bakal membentuk pribadinya di masa depan. Memberikan pendidikan karakter yang baik sejak dini penting banget hukumnya!

 

Anak usia dini ini akan mengacu pada anak-anak berusia 0 hingga 8 tahun. PAUD pun dirasa cocok untuk dilaksanakan pada usia yang dikenal sebagai ‘usia emas’ anak ini, lho! Ruang lingkup usia dini ini pun terdiri dari bayi (0-1 tahun), balita (2-3 tahun), kelompok bermain (3-6 tahun) dan usia sekolah awal (6-8 tahun).

 

Nah, jika Bunda sangat ingin memperhatikan tumbuh kembang si kecil agar senantiasa baik, maka perlu bagi Bunda untuk mengetahui tahapan perkemabngan ini dari beberapa aspek. Aspek tersebut adalah fisik, kognitif, bahasa, emosi, serta sosial. Yuk, simak penjabaran lebih jelas di bawah ini!

 

Fisik

 

Pertambahan berat, tinggi, perkembangan otak serta keterampilan motorik kasar maupun halus jadi fokus pertumbuhan fisik anak pada usia emas ini. Sedangkan untuk motorik kasar akan meliputi kemampuan anak dalam bergerak, melompat, dan berlarian.

 

Lalu motorik halus akan meliputi kemampuan dan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil, seperti koordinasi tangan dan mata. Contohnya, kemampuan anak dalam melipat dan merobek kertas, mengupas, menggunting, dan kegiatan kecil lainnya.

 

Kognitif

 

Perkembangan kognitif anak dibagi jadi 4 tahap, mengacu pada Teori Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget, Profesor Psikologi dari Universitas Geneva, Swiss. Pertama adalah tahap sensorimotor pada anak usia 0 – 24 bulan.

 

Di tahap ini anak masih memiliki gerak refleks yang terbatas. Jadi jangan bingung kalau si kecil rewel namun nggak bisa menjelaskan apa yang menggagunya karena ia belum bisa mengetahui apa yang ia inginkan dan butuhkan.

 

Setelah itu. ada tahap praoperasional pada usia 2 – 7 tahun nih, Bund. Di usia ini, anak sudah mulai bisa menerima rangsangan meski masih terbatas. Kemampuan berbahasa dan kosakata anak sudah baik, ia pun mulai bisa menyampaikan keinginan dan kebutuhan meski masih cenderung egois. Di tahap inilah, sebagai orang tua Bunda harus bisa mengarahkan si kecil menuju kebiasaan yang baik.

 

Terakhir ada tahap operasional konkret pada usia 7 – 11 tahun. Di usia ini si kecil sudah mampu berpikir logis dan mengerti konsep rasional. Setelahnya dilanjut dengan tahap operasional formal selepas 11 tahun, anak pun mulai memasuki fase remaja dan siap menghadapi dunia dewasa.

 

Bahasa

 

Bunda, bahasa menjadi sebuah hal penting yang harus kita perhatikan perkembangannya sejak dini, nih. Perkembangan bahasa anak akan mulai berkembang pesat saat ia memasuki masa prasekolah. Bahasa ini tentunya ia dapatkan dari pengalaman diri dan lingkungan.

 

Dilansir dari Parent Further, anak usia 3 tahun pada umumnya telah mengetahui kurang lebih 300 kata, kemungkinan akan berkembang jadi 1.500 kata saat usia 4 tahun, dan 2.500 kata pada usia 5 tahun.

 

Jika Bunda ingin anak berbahasa baik tentu peran kita mengembangkan kosa kata anak sehari-hari jadi sangat penting. Bunda bisa meningkatkan keterampilan bahasa si kecil dengan membaca bersama, mengajaknya mengobrol, dan mengajukan banyak pertanyaan.

 

Sosio-Emosional

 

Terakhir ada aspek sosio-emosional yang juga harus senantiasa Bunda perhatikan perkembangannya. Sosio-emosional ini sebenarnya sudah dimulai sejak bayi dilahirkan. Misalnya, secara emosional bayi mulai menghentakkan kaki jika merasa senang, melempar barang ketika marah, dan sebagainya. Aspek ini akan semakin berkembang seiring dengan pertumbukan dan kedekatan si kecil dengan orang dewasa.

 

Pembelajaran pada anak usia ini ini lebih efektif jika kita sampaikan dengan melibatkan kegiatan atau permainan interaktif, lho! Hal ini disebabkan rasa ingin tahu si kecil yang besar, unik, suka berimajinasi, egois, dan konsentrasi yang relatif pendek.

PERKEMBANGAN FISIK ANAK

bukuananda.com

Bunda, saat si kecil tumbuh dan berkembang, ada beragam aspek yang harus senantiasa kita perhatikan dengan seksama, lho! Hal ini tentunya juga harus dibekali dengan pengetahuan memadai kita terhadap tahapan perkembangan yang baik dan benar. Dengan begitu, kita bisa mengetahui jika si kecil berkembang dengan baik.

 

Salah satunya adalah aspek perkembangan fisik anak yang penting banget buat diikuti. Sejak bayi hingga anak berusia 6 tahun, Bunda akan melihat kemajuan yang signifikan dari perkembangan fisik si kecil. Ia akan bertambah tinggi dan kuat, kemampuannya bergerak dengan koordinasi dan kontrol motorik pun makin baik.

 

Namun, satu hal yang biasanya akan membuat Bunda dan orang tua lainnya takjub adalah transisi dari perkembangan fisik anak, lho! Mulai dari duduk, merangkak, berdiri, belajar berjalan hingga lancar berlari ke sana kemari. Nah, bagi Bunda yang belum tahu, di bawah ini merupakan rangkuman perkembangan fisik anak sesuai dengan tahapan pertumbuhannya. Yuk, cari tahu!

 

Bayi

 

Bayi memiliki gerak refleksif yang nggak sengaja dimulai beberapa minggu dan bulan setelah dilahirkan. Beberapa tindakan refleks bayi baru lahir seperti terkejut yang disebabkan suara atau gerakan tiba-tiba, refleks memegang kaki dan tangan mereka sendiri. Memasuki usia 1 tahun, bayi sudah pasti dapat mengangkat kepalanya sendiri, duduk tanpa sandaran, merangkak, berjalan satu atau dua langkah, dan memegang benda-benda di sekitarnya.

 

Balita

 

Usia balita berada di angka 1 – 3 tahun, pada usia ini anak sudah bisa berjalan tanpa bantuan, melompat, naik tangga, memegang gelas, menulis, mewarnai, hingga membuat lingkaran. Usia balita juga biasanya sudah bisa mengendarai sepeda roda tiga.

 

Anak Prasekolah

 

Setelah balita, anak akan memasuki usia prasekolah, antara 3 hingga 5 tahun. Pada usia ini, si kecil harus bisa berdiri dengan satu kaki selama sepuluh detik atau lebih, berlari, memanjat, menangkap bola, dan berpakaian sendiri. Kegiatan-kegiatan orang dewasa pada umumnya sudah bisa mereka lakukan meski belum sempurna. Pada tahap ini, anak juga seharusnya sudah bisa ke toilet sendiri.

 

Anak Usia Sekolah

 

Terakhir, pada usia ini tentu anak sudah bisa mulai mandiri dan melakukan kegiatan sehari-hari sendiri meski tetap harus dibimbing. Anggota tubuh anak seperti mata dan tangan sudah berkoordinasi dengan baik.

 

Nah, Bunda, itu dia tahap-tahap perkembangan fisik anak dari tahun ke tahun, sesuai dengan usia mereka. Satu hal yang harus senantiasa Bunda perhatikan adalah apakah perkembangan si kecil sesuai dengan usianya, ya. Jika Bunda merasa ada yang janggal, alangkah lebih baik segera berkonsultasi pada ahlinya!

TUMBUH KEMBANG Si Kecil

bukuananda.com

Sebagai orang tua, menyambut kelahiran si kecil pasti sangat penuh suka cita. Iya gak nih, Bunda? Kita pasti gak sabar menantikan tumbuh kembang anak dari mulai 0 bulan hingga bulan-bulan seterusnya. Nah, demi memperhatikan perkembangan baik si kecil, kita harus tahu seperti apa sih tumbuh kembangnya saat mulai memasuki usia 1 bulan? Yuk simak di bawah ini!

    1. Indra pendengaran dan penciuman

Ketika pendengaran si kecil makin sempurna, ia akan menggerakan kepala dan matanya akan menoleh pada sumber suara. Terutama saat Bunda mencoba memanggilnya atau membunyikan suara di dekatnya.

    1. Koordinasi tangan, kaki, dan mata

Salah satu hal yang mulai berkembang dari bayi usia 1 bulan adalah koordinasi gerak refleks kaki dan tangannya yang baik. Jari jemari mungilnya akan secara refleks menggenggam benda yang diberikan padanya. Penglihatannya pun semakin peka dengan sinar, hingga hal ini akan menarik bola matanya mengikuti sumber cahaya.

Refleks lainnya adalah tangan yang mulai diangkat mendekati kepala yang biasanya bisa sampai ke mulut. Ia pun akan sering mengemut tangannya. Bunda bisa membelikan mainan gantung warna-warni di atas tubuh bayi agar melatih sensorik dan motoriknya.

    1. Keinginan menyusu makin sering

Jangan kaget kalau frekuensi menyusu bayi akan semakin bertambah dari waktu ke waktu. Ditambah waktu menyusu yang dibutuhkan semakin panjang. Hal ini dikarenakan lambungnya yang semakin besar dan aktivitasnya yang semakin banyak. 

    1. Perkembangan berat dan panjang

Berat badan bayi berusia 1 bulan biasanya berkisar antara 3,4 kg – 5, 7 kg untuk laki-laki sedangkan untuk bayi perempuan berkisar 3,2 kg – 5,4 kg.

Bayi baru lahir memiliki ubun-ubun lunak yang disebut fontanel dan bakal mengeras seiring usia yang bertambah. Jika Bunda melihat fontanel si kecil yang terlalu cekung atau masuk ke dalam, hal ini pertanda bahwa ia dehidrasi. Namun jika kebalikannya, kemungkinan besar bayi sedang mengalami masalah kesehatan seperti meningitis.

    1. Waktu tidur

Jangan heran kalau si kecil makin sering terbangun. Hal ini dikarenakan waktu tidurnya yang semakin berkurang. Di siang hari ia akan lebih lama bangun. Semakin baik kemampuan bayi mengenali jam alaminya, ia akan tidur lebih nyenyak malam hingga esok pagi.

    1. Bergumam dan tertawa

Meskipun kemampuan bicara bayi umur 1 bulan belum sempurna, namun ia sudah bisa mengeluarkan suara seperti gumaman atau tawa memekik untuk mengekspresikan perasaannya. Bunda bisa merangsang perkembangan berbicaranya dengan sering mengajaknya berkomunikasi dengan face-to-face.

Manfaat Musik Untuk Tumbuh Kembang Si Kecil

bukuananda.com

Bunda tahu gak sih kalau musik ternyata punya andil dan manfaat besar dalam tumbuh kembang anak? Hal ini diperkuat dengan keterangan dari psikolog Hoshael E yang menjelaskan bahwa musik sebaiknya jadi hal pertama yang dipelajari anak-anak. Kira-kira kenapa ya?

 

Jawabannya, masa kanak-kanak merupakan masa si kecil belajar tumbuh dan berkembang, usia ini jadi masa paling kritis bagi anak membangun fondasi intelektual, fisik, mental, dan emosional yang bakal mendukung setiap aktivitasnya di masa depan.

 

Bunda bisa memfasilitasi tumbuh kembang ini dengan maksimal, salah satu caranya mengajarkan musik sejak dini. Otak anak akan sangat siap untuk menerima stimulus agar berkembang. Musik berpotensial dalam hal ini, karena merupakan salah satu variabel yang bisa mengaktifkan beberap bagian otak sekaligus.

 

Selain itu, musik juga dapat membantu si kecil membangun kreativitas untuk mempermudah proses belajar di masa depan. Hal ini karena musik dapat membuat komponen-kompnen dalam otak selalu aktif. Adapun manfaat lain musik bagi perkembangan otak si kecil. Simak yuk, Bund!

 

Meningkatkan daya otak dan fungsi memori

 

Hal ini sudah dibuktikan secara ilmiah bahwa musik memiliki manfaat bagi kesehatan anak, salah satunya untuk membantu meningkatkan daya otak dan fungsi memori. Musik dapat membantu merangsang bagian otak yang bertanggung jawab dalam membaca, berhitung, dan perkembangan emosional.

 

Mengembangkan keterampilan sosial

 

Bunda tahu gak kalau keterampialn sosial ada kaitannya dengan musik? Hal ini berlaku kalau si kecil mempelajari musik di tempat les dan jadi bagian dari sana. Sejak dini si kecil pun bakal belajar bagaimana caranya berhubungan dengan orang, bekerja dalam tim, kepemimpinan, dan disiplin.

 

Membangun kepercayaan diri

 

Saat si kecil memainkan alat musik, kepercayaan diri mereka pun akan berkembang. Mereka dapat belajar meyakini diri dan meningkatkannya sesuai kebutuhan. Hal ini karena bermain musik membutuhkan sebuah kepercayaan diri pada kemampuan diri sendiri.

 

Mengajarkan rasa sabar

 

Koordinasi dalam permainan grup musik menuntut kesabaran si kecil. Formasi tersebut akan membutuhkan kerja sama tiap anggota untuk mendapatkan giliran bermain masing-masing. Hal ini juga bakal melatih kesabaran si kecil saat menanti gilirannya bermain.

 

Mengajarkan disiplin

 

Tentunya, bermain musik atau bernyanyi membutuhkan sebuah disiplin tersendiri. Si kecil akan memerlukan banyak latihan berkala. Mereka akan tahu bahwa menjadi lebih baik perlu waktu. Hal ini diharapkan memupuk disiplin mereka sejak kecil.

TERAPKAN POLA ASUH SEHAT INI, BUNDA

bukuananda.com

Bunda tahu nggak kalau pola asuh itu merupakan investasi jangka panjang bagi tumbuh kembang anak, terutama di masa depan. Pola asuh yang baik bisa mengajarkannya untuk memiliki rasa empati, kebaikan, keceriaan, kerjasama, kejujuran, kemandirian, dan sikap pengendalian diri yang baik.


Ada dua jenis pola asuh sehat yang bisa Bunda terapkan, lho. Apa aja? Yuk simak penjelasannya di bawah ini!



  1. Pola Asuh dengan Insting


Pola asuh jenis ini sering diterapkan oleh kebanyakan orang tua. Biasanya, cara ini dilakukan karena orangtua yang mengasuh anak mengikuti insting dan pengalaman masa kecil. Hal ini boleh saja asal cocok buat diterapak dengan si kecil, ya.



  1. Pola Asuh Autoritatif


Pola asuh ini bisa juga disebut pola asuh demokratis. Ditandai dengan pemberian kebebasan kepada anak untuk menentukan pilihan hidupnya. Bunda cuma perlu memaparkan apa dampak positif dan negatif dari suatu hal, lalu membebaskan anak untuk menentukan pilihannya sendiri.


Bunda juga dianjurkan untuk mendengarkan pendapat dan memahami perasaan anak. Jika ia mendapatkan prestasi puji ia dan jika melakukan kesalahan maka jangan ragu menghukumnya. Pola asuh ini dianggap terbaik karena bisa melatih anak untuk mandiri, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas keputusannya sendiri.


Pola asuh ini juga harus diimbangi dengan kesehatan si kecil yang harus senantiasa diperhatikan ya, Bund.


5 Sumber Makanan yang Bisa Bikin Tambah Tinggi

bukuananda.com

Orang tua pasti ingin supaya anak-anaknya mengalami fase tumbuh kembang yang baik dan menyenangkan. Salah satunya adalah orang tua ingin anak-anak memiliki tinggi badan yang ideal. Dan di sinilah masa tumbuh kembang menjadi penting ya Bunda. Nah, berikut ini adalah 5 makanan yang bisa menambah tinggi badan di masa tumbuh kembang anak, yuk, tengok apa saja!

 

 

    1.  Telur

 

 

Sebuah studi di Ekuador menyatakan bahwa dari 83 bayi usia 6 hingga 9 bulan, diberi makan telur satu butir setiap hari, selama 6 bulan. Hasilnya, anak-anak itu mengalami penurunan risiko tinggi badan rendah daripada anak-anak yang tidak makan telur. Selain itu, telur tidak sulit untuk diolah. Bisa jadi telur mata sapi, roti juga bisa dimakan dengan telur dan sebagainya.

 

 

    1.  Susu

 

 

Kalsium dalam susu memiliki peran penting untuk pembentukan serta pertumbuhan tulang dan memperbaiki sel-sel tulang yang rusak. Sebuah studi menunjukkan bahwa anak yang minum susu sapi lebih banyak mengalami kenaikan tinggi badan yang lebih daripada anak-anak yang lebih sedikit minum susu sapi selama 3 tahun.

 

 

    1.  Bayam

 

 

Bayam dapat membantu fungsi pertumbuhan otak, tubuh dan membangun sel otot serta berguna bagi pertumbuhan tulang. Tidak selalu harus jadi sayur bening, Bunda bisa mencoba membuat green smoothies, salad segar, maupun pasta bayam. Tentu saja bikin si kecil jadi doyan makan ikan.

 

 

    1.  Kedelai

 

 

Kaya akan protein sehingga bisa menambah tinggi badan. Selain itu kandungan folat, protein, vitamin dan fibernya meningkatkan kepadatan tulang dan massa.

 

 

    1.  Brokoli

 

 

Selain bayam, brokoli adalah sayuran hijau yang juga dipercaya bisa bikin tinggi badan bertambah, lho! Kaya akan mineral dan vitamin, brokoli juga memiliki kandungan zat besi yang berguna memaksimalkan tinggi badan anak.

 

Nah, itu tadi ya 5 makanan penambah tinggi badan dalam masa tumbuh kembang anak. Walau ada faktor genetik juga tapi setidaknya dengan makanan dan gizi yang seimbang, diharap anak-anak dapat tumbuh dengan baik. Semoga bermanfaat ya Bund infonya.

5 Tips Efektif Tumbuh Kembang Anak

bukuananda.com

Tumbuh kembang anak tentu menjadi perhatian bagi para orang tua. Banyak faktor yang bisa mempengaruhi proses tumbuh kembang anak. Untuk itu penting bagi para orang tua memiliki wawasan tentang kebutuhan akan masa tumbuh kembang anak. Nah, berikut ini 5 cara efektif untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Yuk simak bersama.

 

 

    1.  Membiasakan anak berolah raga secara teratur

 

 

Kegiatan olah raga akan meminimalkan risiko obesitas pada anak, dan memaksimalkan proses tumbuh kembang mereka. Anak-anak yang berolah raga akan lebih bersemangat menjalani aktifitas mereka, selain itu juga mengalami pertumbuhan tulang dan otot secara maksimal. Anak-anak lebih rentan mengalami kelebihan berat badan serta menyebabkan kemampuan kognitif sulit berkembang karena malas bergerak.

 

 

    1.  Membantu anak menemukan minat bakat

 

 

Tumbuh kembang tidak melulu soal fisik tapi termasuk juga dalam urusan menemukan apa yang menjadi minat dan bakat si anak sejak sedini mungkin. Karena dengan begitu, anak akan lebih semangat dalam beraktifitas. Namun, bukan berarti hal-hal lain di luar minat bakatnya tidak penting. Ajarkan bahwa pengetahuan yang didapatkan di sekolah semuanya penting.

 

 

    1.  Menjaga daya tahan tubuh anak

 

 

Kebutuhan gizi yang baik adalah salah satu faktor agar anak memiliki daya tahan tubuh yang baik pula. Biasakan mereka rutin melakukan aktifitas fisik supaya fungsi organ tubuh dalam berjalan maksimal. Jangan takut jika si kecil menjadi kotor, ajarkan untuk selalu membersihkan diri setelah bermain.

 

 

    1.  Komunikasi efektif sejak anak lahir

 

 

Meski bayi belum bisa menanggapi komunikasi tapi otaknya akan terus berkembang dan terstimulasi jika diajak berkomunikasi. Maka penting untuk mengajaknya berkomunikasi, tidak sebatas obrolan saja tapi juga bisa melalui sentuh kulit atau ekspresi wajah.

 

 

    1.  Kebutuhan gizi dan stimulasi sejak di dalam kandungan

 

 

Asupan gizi yang seimbang sangat penting untuk perkembangan buah hati. Selain itu calon ayah dan ibu bisa sering melakukan interaksi dengan obrolan positif pada si janin atau memutar musik yang dapat merangsang tumbuh kembangnya.

 

Itu tadi ya Bunda 5 cara efektif untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

3 Mitos yang Mengganggu Tumbuh Kembang Anak

bukuananda.com

Dalam masa tumbuh kembang anak, banyak sekali pemahaman dan metode yang masih keliru dan sering kali diterapkan. Misalnya anak dua tahun tidak bisa duduk diam selama dua jam di kelas, akan dicap mengalami gangguan konsentrasi, anak lima tahun harus ikut macam-macam les sehingga tidak punya waktu bermain. Penting bagi orang tua untuk benar-benar memahami proses tumbuh kembang anak dan tidak termakan oleh mitos-mitos yang salah. Berikut ini 3 mitos yang sering dipercaya dan justru menghambat tumbuh kembang anak.

 

 

    1.  Mitos: Bisa membaca usia dini adalah tanda-tanda kejeniusan

 

 

Tentu saja bisa membaca di usia dini adalah hal yang baik, tetapi jika anak benar-benar memahami apa yang ia baca. Jika hanya tau cara membaca atau nama suatu benda bukan berarti si anak benar-benar paham dengan apa yang dia ucapkan. Memaksa anak menghafalkan banyak kata tanpa tau maknanya di saat otak masih terus berkembang akan menyebabkan hiperleksia yaitu kondisi si anak bisa membaca tapi kesulitan untuk menangkap maknanya dan itu bukan lah tanda kejeniusan.

 

 

    1.  Mitos: Anak perlu ditempatkan di kelas khusus karena terlambat bicara dibanding anak-anak lain

 

 

Hanya karena anak Bunda terlambat bicara dan orang-orang di sekitar Bunda atau guru menyarankan supaya anak ditempatkan di kelas khusus atau melabeli mereka dengan diagnosis tertentu, jangan buru-buru menerimanya. Suatu penelitian menyatakan bahwa 60% anak yang mulanya terlambat bicara, pada akhirnya bisa mengejar ketertinggalan dalam waktu 2 sampai 3 tahun.

 

 

    1.  Mitos: Bunda harus fokus mengembangkan otak bayi sedini mungkin

 

 

Otak memang membutuhkan input tapi tidak perlu selalu dengan cara-cara khusus. Lingkungan natural bayi pun biasanya juga memberi stimulus untuk perkembangan otaknya, misal suara, sinyal, sentuhan, rasa, atau bau. Misalnya ketika seorang ibu bernyanyi sambil memakaikan baju, si ibu sebenarnya sedang merangsang gelombang otak anak untuk bekerja secara aktif.

 

Nah, itu tadi ya Bunda 3 mitos yang sering kali dipercaya oleh para orang tua. Jadi sekarang harus lebih teliti lagi ya. Agar proses tumbuh kembang anak bisa terus berjalan dengan optimal. Semoga informasi ini bermanfaat buat Bunda ya.